Minggu, 01 Agustus 2021

Topeng (Persona)

Satriawan - 27 Juni 2014



Topeng
     Topeng atau bisa kita sebut sebagai persona adalah sisi kepribadian seseorang yang ditujukan kepada dunia (Carl Gustav Jung). Persona tidaklah selalu mewakili kepribadian asli kita. Biasanya kita sering menciptakan topeng kita sendiri untuk kondisi tertentu atau mungkin mengadaptasi kepribadian orang lain untuk kita jadikan topeng. Contoh yang paling jelas adalah saat kita jatuh cinta atau sedang melakukan pendekatan (PDKT), kita sering menciptakan kepribadian yang kita anggap keren atau kepribadian yang disukai oleh pasangan kita sehingga kita tidak menjadi diri sendiri. Nah siapa yang begitu ?. Biasanya pasangan kita komplain setelah menikah dan bilang,”Kamu ga seromantis dulu, kenapa sih ?”. Yah itu pertanyaan mematikan, lebih mematikan dari pertanyaan HRD. 
     Bicara soal persona, hampir semua orang memiliki kepribadian buatan yang tidak mewakili kepribadiannya, tentunya dengan motiv yang berbeda pula. Bisa jadi karena tuntutan keadaan atau memang kamu merasa keren dengan persona itu. Selama itu tidak menghilangkan kepribadian aslimu, ini tidak akan jadi masalah. Tapi yang sering terjadi adalah kita terlalu nyaman dengan persona buatan itu sehingga kita lupa dengan diri sendiri dan orang lain juga merasa nyaman dengan persona itu. 
     Saya pernah membuat sebuah grup band dan saya sebagai gitaris dengan genre rock. Sebagai sebuah grup kita memang paham bahwa kesukaan musik dan style kita berbeda. Tapi kita memantapkan hati untuk setuju pada satu genre. Meskipun saya menikmati saat bermain musik, tapi style dan gaya bermusik tidak membuat kepribadian saya nyaman. Saya tipe kepribadian yang santai dan tidak cocok dengan style rock. Tapi orang-orang disekitar menyukai style kami saat manggung. So, saya mencoba mengikuti kemauan orang lain. Entah ini karena tuntutan atau memang saya nyaman dengan pujian, yang jelas saya tidak bisa berlama-lama dengan karakter itu. 

Karakter Fiksi 
     Takiya Genji, salah satu karakter utama dari film Crow Zero yang di bintangi oleh Oguri Shun, sempat booming di kalangan remaja dengan penampilan yang super kece dan menjadi karakter petarung kuat. Tidak sedikit para remaja yang mengikuti penampilan dan gaya rambutnya. Film ini menceritakan tentang pertarungan antar sekolah, yah kalo di negara 62 kita sebut saja tawuran, namun Crow Zero adalah tawuran versi keren dan enak ditonton. 
     Melihat karakter fiksi dalam film terkadang membuat kita sangat termotivasi untuk mengikuti perilaku dan penampilannya karena di mata orang secara umum karakter itu sangat keren dan memiliki banyak penggemar sehingga kita beranggapan bahwa dengan membuat persona yang mirip karakter tersebut kita juga akan terlihat keren. Yah, tidak salah dan tidak benar juga. Yang jelas saat kita terlalu nyaman dengan persona itu, kita tidak percaya diri dengan kepribadian kita sendiri dan pelan-pelan akan kehilangan karakter asli kita. Hal ini yang membuat kita sulit menemukan jati diri kita sendiri. 

Dia Tidak Lebih Keren
     Saat masih tergabung dalam grup band, saya memiliki teman yang disukai banyak wanita, yah karena memang tampan dan penampilannya juga kece. Beberapa kali saya sering merasa iri meskipun tidak pernah saya ekspresikan. Bisa disebut kita berdua sohib, karena sering kemana-mana bareng. Sesekali juga saya mau mencoba untuk merubah penampilan atau setidaknya bersikap seperti dia supaya bisa populer juga. Tapi ada banyak hal yang saya rasa tidak cocok kalaupun saya meniru dia. Sampai ada momen dimana dia pernah mengatakan bahwa,”gua iri sama lu, apa aja bisa dan gua pengen bisa kaya lu”. 
     Yah memang benar rumput tetangga selalu lebih hijau. Momen itu membuat pikiran saya tidak memperhatikan apa yang dia bicarakan setelah perkataan itu. Saya iri dengan orang yang iri sama saya. Yah lucu tapi ironi. Hehe.
     Sebelum kamu membuat orang lain menjadi pusat ukuran dalam hidupmu, pikirkan sekali lagi. Kita tidak tahu apa yang ada dipikiran orang lain, mungkin dia tidak lebih baik darimu. Kita  terlalu sering melihat satu kelebihan yang kita inginkan tanpa melihat kekurangan di sisi lain. Begitupun ketika kita menilai diri sendiri, terlalu fokus memperbaiki kekurangan tapi tidak melihat kelebihan. Kamu memiliki peran tersendiri dan percaya bahwa kamu itu unik. Tanamkan pikiran bahwa kamu lebih keren dari siapapun setidaknya dalam hal yang kamu kuasai.




https://Sampaikapan.com/persona

Potensi Diri

Satriawan - 13 Mei 2014

 Menyadari Potensi

     Apakah kita dilahirkan dengan bakat tertentu yang sudah menempel sejak lahir atau lingkungan yang membentuk bakat yang kita miliki ?. Kita beruntung ada di zaman dimana ilmu pengetahuan sudah berkembang. Para ahli terdahulu telah banyak melakukan penelitian demi masa depan agar generasi selanjutnya dapat mengungkap lebih lanjut segala hal yang belum diketahui. Dalam hal ini, kita membahas tentang bakat individu dengan mengutip pendapat para ahli sebagai perwakilan dari tiga aliran yaitu Nativisme, Empirisme dan Konvergensi.

     Avram Noam Chomsky seorang ahli Linguistik yang mendukung aliran Nativisme menyatakan bahwa perkembangan individu semata-mata dipengaruhi oleh bawaan sejak lahir, tapi sayangnya teori ini tidak menemukan fakta yang akurat. Berbeda dengan Chomsky, John Locke yang menganut aliran Empirisme berpendapat bahwa perkembangan seseorang semata-mata dipengaruhi oleh faktor lingkungan sedangkan faktor bawaan sangat tidak berpengaruh. Namun realita berkata lain karena ada banyak anak-anak yang lahir dengan segala fasilitas yang ada dan lingkungan yang baik namun tetap mengalami kegagalan sehingga teori ini tidak tahan uji.

     Louis William Stern merupakan tokoh utama dari aliran Konvergensi yang menggabungkan kedua aliran sebelumnya. Aliran ini berpendapat bahwa bakat mungkin telah dimiliki oleh setiap individu namun berkembang atau tidaknya dipengaruhi oleh lingkungan. Teori inilah yang paling logis jika dibandingkan keduanya, karena realita membuktikan bahwa tidak semua anak yang terlahir miskin tanpa fasilitas akan tetap menjadi miskin karena tidak berkembang, begitu juga sebaliknya.

     Dari teori di atas kita dapat membuat kesimpulan dan harus bisa berpikir bahwa tidak perlu mengeluh jika kita memang tidak memiliki fasilitas sebagai sarana untuk mengembangkan potensi yang kita miliki, cukup memfokuskan diri apa yang kita bisa lakukan untuk mengembangkan potensi kita. Tidak perlu terpaku dengan fasilitas yang dimiliki secara umum dan mengikuti tren. Manfaatkan apa yang ada di sekitarmu.

     Dulu, saya punya kebiasaan menghabiskan uang jajan untuk ke warnet. Tapi tidak untuk main game, untuk mempelajari bagaimana membuat blog. Di saat orang lain pergi ke warnet hanya untuk main game, saya menghabiskan waktu selama dua tahun hanya untuk memahami apa itu blog. Bersamaan dengan itu, saya juga belajar banyak tentang dunia internet. Yang saya tahu, saya tidak pernah menyesal karena kehilang sedikit waktu main pada saat itu dan dua tahun itu tidak sia-sia. Sekarang saya paham untuk apa dulu saya melakukan itu. Kita tidak membutuhkan sebuah laptop jika ingin mahir menggunakan laptop, begitu juga saat kamu punya keinginan untuk bisa mengendarai motor, apakah harus punya motor terlebih dahulu ?. Aku rasa tidak, hehe.

     Perhatikan apa yang sering kamu lakukan dan amati setiap kegiatan yang kamu senang saat melakukannya dan berhasil atau kamu PD dengan hal itu. Bisa jadi kamu memiliki potensi yang unik dan tidak kamu sadari. Yang harus kita tahu adalah tidak ada bakat yang tidak berguna, hanya saja kamu belum menemukan waktu dan tempat yang sesuai untuk bakatmu.

Meramal Masa Depan Dengan Mimpi

     Berimajinasi tentang mimpi, kita sering menempatkan diri kita seolah-olah kita sudah mewujudkan mimpi itu. Merasakan sensasi indahnya hidup yang dikagumi banyak orang saat menjadi selebriti, atau membayangkan ada di Turnamen Internasional saat menjadi Gamer E-Sport. Seolah-olah kita sudah melihat masa depan dan meramalkan hal itu. Yah, nikmat sekali. Hal-hal seperti itu yang terbayang ketika kita melihat mimpi yang sudah kita genggam, semakin lama kita membayangkan itu maka semakin kuat mimpi itu kita genggam.

     Saat kita mulai yakin dengan mimpi itu dan merasa bahwa itu realistis, kita mulai melihat ide-ide yang muncul secara tiba-tiba dan merangsang otak menggerakkan tubuh kita untuk menerapkan ide-ide itu. Namun apa yang terjadi ?, kita sering dibantah oleh pepatah-pepatah yang menurunkan mood seperti,”hidup itu keras” atau “menggapai mimpi itu tidak mudah”. Yah, saya hanya bisa mengatakan itu benar. Tapi yang dibutuhkan mimpi bukanlah sebuah kebenaran dan logika. Yang kita butuhkan adalah bahan bakar untuk tetap menjaga mood untuk tetap berada di jalur mimpi yang sudah kita buat. Carilah hal-hal yang dapat membuat mood kamu tetap terjaga entah itu orang yang sering mensupport kamu, atau aktivitas yang dapat memberimu semangat dan hal lainnya. Konsisten menjaga mood untuk terus berada di jalur itu sangat penting, asalkan jangan terlalu ambisius. Seperti kata pepatah, menggenggam pasir sangat kuat hanya akan menjatuhkan pasir itu kan.

Menemukan Jalur

     Percaya atau tidak saat kamu mulai berkhayal tentang cita-cita, setidaknya ada gambaran apa saja yang kamu butuhkan dan harus dilakukan. Ide-ide itu akan membentuk jalur, mungkin kita tidak bisa langsung melihat garis finish pada jalur itu, tapi kita bisa memastikan bahwa jalur-jalur itu terbagi ke dalam beberapa tahap dan hanya kamu yang dapat memastikan itu. Saat itulah kalian sedang menyusun takdir kalian sendiri. Selesai atau tidak, melenceng atau tidak, kalian lah yang memutuskan.

     Kamu adalah pemeran utama dalam skenario yang masih berbentuk naskah itu. Jika Tuhan sudah acc maka kamu akan mudah untuk mencapai itu. Akan tetapi jangan pernah kecewa jika jalurmu tiba-tiba berubah untuk suatu alasan yang mungkin lebih penting dari pada mimpimu itu sendiri. Kita hanya harus berpikir bahwa naskah kita sedang di revisi oleh Tuhan, mungkin ada beberapa jalur yang tidak tepat atau tidak kamu butuhkan dan sebagai gantinya Tuhan menyiapkan jalur lain yang tetap terhubung ke garis finish. Di momen ini kita sering beranggapan bahwa kita gagal, kemudian berprasangka buruk pada Tuhan dan godaan untuk menyerah mulai berdatangan. Di titik inilah banyak orang yang kehilangan mimpinya, padahal Sang Produser (Tuhan) hanya sedang merevisi sedikit naskah yang kita susun agar skenario jadi lebih berkualitas untuk kamu ceritakan pada anak-anakmu nanti atau setidaknya sebagai warisan hidup untuk dipelajari oleh anak-anakmu.


Sumber :

Baharuddin, 2010, Pendidikan dan Psikologi Perkembangan, Meita Sandra, Ar Ruzz Media, Yogyakarta


Frekuensi Pertemanan

Satriawan - 6 Mei 2014


Satu Frekuensi
     Apakah kamu pernah merasa bahwa kamu tidak pernah cocok berteman dengan siapapun atau kamu pernah berpikir bahwa orang yang benar-benar kamu anggap sebagai teman hanya bisa dihitung dengan jari. Itu bukan salahmu, juga bukan salah mereka yang memang tak cocok denganmu. Hanya saja mungkin kalian tidak satu frekuensi. Apasih maksudnya satu frekuensi ?.
     Saat kita bertemu seseorang yang memiliki kesamaan dengan kita seperti hobi yang sama, kesukaan yang sama, atau bahkan perilaku yang sama akan membuat sensasi tersendiri untuk membuat kita nyaman berada di dekatnya. Saat berkomunikasi, banyak hal yang membuat isi pembicaraan begitu nyambung, dari sini kita sebut pertemanan satu frekuensi.
      Dalam bergaul kita sering membuat sebuah “image” agar orang lain menilai bahwa kita itu orang baik, keren atau gaul. Tapi yang terjadi adalah “image” itu tidak sampai kepada mereka, bahkan “image” yang kamu buat hanya seperti angin di laut, lewat tapi tak nampak. Biasanya ketika kita sedang membuat image di hadapan orang lain, kita cenderung tidak menjadi diri sendiri dan itu yang menjadi penilaian banyak orang bahwa pertemanan bukanlah sebuah kompetisi dan memang tidak ada nilai yang melekat pada setiap individu. Hal itu akan membuat frekuensi lmu menjadi buram dan membuat orang lain mengabaikanmu. Jadi tidak perlu melebihkan atau mengurangi karakter yang sudah kita miliki. Dalam satu kelompok pertemanan, kita sering melihat ada banyak varian tipe orang seperti humoris, ada yang pintar, ada yang konyol dan seterusnya. Mereka menempati posisinya masing-masing tanpa melebihkan atau mengurangi nilai yang mereka punya sebab varian itu lah yang membuat sebuah pertemanan menjadi lebih berwarna. Jika kalian memang pernah melihat sebuah kelompok yang isinya orang-orang tampan dan keren. Yah mungkin itu boyband dan jika semuanya cantik mungkin itu girlband. Meskipun memang pasti ada setidaknya satu dari sekian banyak kelompok pertemanan yang isinya memang orang-orang tampan, itu hanya kebetulan dari apa yang kita lihat tanpa memperhatikan varian asli yang mereka punya.
     Terkadang kita sendiri secara tak sadar membawa imajinasi film tentang persahabatan ke kehidupan nyata sehingga diri kita sering menuntut persahabatan yang indah dengan sedikit kekurangan. Di sisi lain, kita tidak pernah introspeksi diri mengapa kita sulit mencari frekuensi yang sama.

Menemukan Frekuensi Yang Tepat
     Menilai karakter dan sifat seseorang tidak akan pernah menemukan ukuran yang sama selama orang-orang yang menilai memiliki persepsi yang berbeda. Kamu bisa saja mendeklarasikan pernyataan bahwa kamu adalah pendengar yang baik, tapi orang-orang yang tidak menyukaimu belum tentu setuju atau mereka yang tidak tahu tentang dirimu juga tidak setuju.
     Jika kamu menyadari bahwa kamu mengerti tentang konsep dari frekuensi pertemanan, maka kamu lah yang mencari frekuensi itu. Tidak perlu menunggu orang lain mengerti barulah kamu menerima frekuensi itu, karena pada dasarnya lebih banyak dari kita yang ingin dimengerti dari pada harus mengerti orang lain. Saat kamu tahu bahwa orang lain tidak bisa memahami dirimu, maka kamu lah yang memahami orang itu. Saling menunggu untuk menerima sinyal bukanlah konsep yang tepat untuk suatu hubungan. Seperti SMS, tidak mungkin kedua nomor telepon hanya menunggu salah satu untuk menerima pesan. Setidaknya ada salah satu nomor yang mengirim dan satu sebagai penerima. Jadi, saat kamu merasa bahwa kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti orang lain, maka jangan memaksakan diri untuk bersikap egois serta beranggapan bahwa,”aku juga ingin dimengerti”.
     Saya jadi teringat kata Paman Ben pada film Spiderman,”Kekuatan yang besar untuk tanggung jawab yang besar”. Saya sangat suka dengan kalimat itu. Makna ini sangat dalam, kita sering mengaku bahwa kita sudah dewasa dan di sisi lain kita menolak untuk mendapat tanggung jawab lebih. Di saat kamu merasa bahwa tingkat kedewasaan yang ada pada circle kamu tidak sesuai dengan kedewasaanmu, yasudah kamu yang harus mengerti mereka, tidak perlu memaksakan mereka untuk mengerti kamu. Tidak perlu merasa rugi, dan nikmati saja peranmu.